Jumat, 21 Februari 2014

cerpen


Senyuman Cinta
Di suatu pagi yang tak begitu cerah, hujan yang tak henti - hentinya mengguyur kota kudus ini. Keadaan cuaca memang tak begitu baik. Banjir dimana - mana. Bahkan bukan hanya di Kudus, tapi  se-Indonesia mengalami musibah ini. Banjir tahun ini memang lebih parah dari tahun - tahun sebelumnya. Banjir yang biasanya hanya mengguyur Ibu Kota Indonesia, Kota Jakarta. namun, sekarang banjir mengguyur seluruh wilayah di Indonesia. Termasuk kampung tercintaku, dukuh bandaran desa garung kidul.
Di pagi ini sekolahku meliburkan seluruh siswanya. Karena sebagian besar anggota sekolahku termasuk guru - guru MTs. Negeri 1 Kudus terkena musibah banjir.
Pagi ini aku berniat ingin pergi kerumah temanku yang masih satu desa denganku. Aku berniat ingin membayar uang pulsa yang semalam aku minta untuk mengirim pulsa ke ponsel HPku. Tapi, karena jalan di desaku tertutupi oleh air, aku jadi males. Aku mencoba membranikan diri untuk melewati air. Ku langkahkan kaki menyusuri jalan yang tergenangi air. meski dingin, kuberanikan diri untuk melangkah di air. langkah demi langkah ku susuri. Sepi, sendiri, dan dingin kulalui. Hingga akhirnya akupun sampai di tempat tujuan. Ku sapa ibu temanku itu. Dan setelah selesai mengantarkan uang itu, akupun bergegas pulang. Saat perjalanan pulang, terdengar di telingaku suara memanggil namaku. “Ervita...., banjir - banjir begini kok jalan kaki. Gitu tadi ya naik sepeda. Lebih cepat dan enak”. Ku terkejut dan mencoba mencari tahu siapa yang menyapaku. Ke tolehkan kepalaku dan melihat sesosok cowok di belakangku. Kupandangi cowok seumuranku menaiki sepeda itu. Ternyata teman lama waktu di Sekolah Dasarku. Lalu dia berkata kembali “Sini lho naik, tak boncengin”. Akupun menjawab “Nggak usah, lagian kalo aku membonceng di sepedamu, aku naik dimana? Apa aku harus naik di ban sepedamu?”. “Nggak kok, sini naik didepanku, tak anterin sampe rumahmu”, ucapnya. Aku langsung menjawab “Nggak. Nggak usah, aku mau mampir dulu ke warung itu kok.” Dia berkata lagi “Bener nih, nggak mau?”. “He.em, nggak usah nggak pa pa kok. Ini aku mau ke warung itu.” Jawabku. “Ya udah kalo nggak mau” jawabnya. Diapun berlalu. Dan aku melanjutkan pergi kewarung dekat pembicaraanku tadi. Aku teringat dengan masalaluku bersama Hamdan, cowok yang menawariku boncengan tadi.
...........Dulu, kau yang mengejar cintaku. Di kelas tiga SD kau yang bilang bahwa kau cinta padaku. Setelah aku jatuh cinta padamu, kau tak pernah lagi nyatakan cinta itu padaku. Tetapi, aku bahagia masih selalu bercanda dengan cintamu. Tahun berganti tahun, kita jalani hidup terus seperti ini. 3 tahun kita begini. Bersama - sama bermain, tertawa, bercanda. Tapi pada akhirnya, di kelas 6 SD kau malah pergi meninggalkanku sendiri. Kau malah pergi bersama temanku meninggalkan aku. Ku menangis, meratapi semua ini, meratapi kepergianmu. Dan hingga akhirnya kita berpisah dikelulusan. Ku mencoba melalui semua ini, meski hanya bersama bayang - bayangmu. Dan kini, kau kembali lagi..............
Lamunanku terhenti. Ku tersentak dengan suara si penjual yang bertanya “Mau beli apa neng?”. “Oh, ya. Beli beras satu kilo, Bu” jawabku cepat - cepat. Di warung, ku teringat pada masalaluku yang aku pikirkan tadi. Tapi, dengan semangat aku berfikir ............. mengapa juga aku memikirkan dia. Toh dia juga tak memikirkan aku. Mengapa juga aku memikirkan masa lalu yang menyakitkan hatiku sendiri. Lebih baik aku membuka lembaran baru. Menyongsong masa depanku. Bila ia bukan jodohku, pasti ada yang lebih baik darinya untukku besok ..............
Lebih baik jalani hidup ini seperti air mengalir. Tak perlu ada penyesalan. Yang penting jalani hidup dengan senyuman.
ALWAYS BE VERY HAPPY

1 komentar: